Langsung ke konten utama

Kunci Kehidupan

Kunci Kehidupan

(Link gambar:


Perjalanan hidup bukanlah sekedar mencari kesenangan, kebahagiaan, dan kenikmatan hasil jerih payah selama mendayungi dunia. Bukan juga hanya untuk mencari jalan keluar dan solusi dari setiap masalah yang ada. Namun, hidup di dunia sejatinya punya tujuan dan akhir. Selama proses hidup itulah manusia akan bertanggung jawab atas takdir yang telah Allah berikan, bagaimana manusia itu mengambil jalan keluar, bagaimana ia merasa setelah tujuannya diraih, serta bagaimana ia menanggapi segala hal yang terjadi, baik itu takdir baik ataupun takdir buruk.
Kunci kehidupan di dunia ini, tiap-tiap manusia memanglah berbeda, karena latar belakang, pendidikan, watak sejak lahir, dan lingkungan sekitar yang beragam. Maka, yang membedakan kunci-kunci itu adalah bentuknya. Namun, perkenankan saya bercerita beberapa rupa dan bentuk kunci yang sepatutnya setiap manusia ukir dalam kunci kehidupannya.

1.     Adab yang baik
Adab dalam arti kata adalah kehalusan dan kebaikan, budi pekerti, kesopanan, dan akhklak (kelakuan/sopan santun). Jika demikian, maka bisa kita artikan bahwa beradab ialah berlaku baik, sopan, dan berakhlak baik. Adab bukanlah bab yang sedikit dan tidak bisa dihentikan untuk dipelajari. Saya kutip dari Ibnul Mubarok, beliau berkata,
تعلمنا الأدب ثلاثين عاماً، وتعلمنا العلم عشرين
“Kami mempelajari masalah adab itu selama 30 tahun sedangkan kami mempelajari ilmu selama 20 tahun.”[1]
Jika dikategorikan berdasarkan umur, adab yang bisa kita pelajari adalah adab kepada orang tua, adab kepada orang yang lebih tua, adab kepada orang sesama umur, adab kepada anak kecil, adab kepada orang yang lebih muda, dsb. Belum lagi adab kepada lawan jenis, adab ketika di rumah, di jalan, di pasar, di tempat kerja, adab di masjid, atau adab ketika bertamu, bersafar, mendidik anak, dan lain sebagainya.
Begitu banyak bab dan sub bab tentang adab yang mungkin belum pernah kita baca atau dengar sekalipun, bahkan menjadi asing di masa sekarang. Ketahuilah, bahwa salah satu bentuk kunci penting dalam kehidupan dan menggapai kesuksesan adalah adab. Sebagaimana Yusuf bin Al Husain berkata,
بالأدب تفهم العلم
“Dengan mempelajari adab, maka engkau jadi mudah memahami ilmu.”[1]

2.     Ilmu yang bermanfaat
Ilmu dalam arti kata adalah pengetahuan tentang suatu bidang yang disusun secara bersistem menurut metode tertentu. Misalnya ilmu peternakan, maka di dalamnya ada metode (cara yang teratur) pemberian pakan ternak, metode fermentasi pakan ternak, metode pengasinan telur, dan lain sebagainya. “Tidak akan bisa tercapai suatu tujuan, tanpa mengusai/memahami ilmu”, saya kutip dari catatan yang saya tuliskan di Buku Kelulusan SMP saya.
Apakah ada ilmu yang tidak bermanfaat? Tentu. Misalnya, ilmu ghoib, ilmu mencuri, ilmu sihir, ilmu judi, dan lainnya. Maka, hendaknya kita berlindung kepada Allah dari ilmu yang tidak bermanfaat. Ilmu yang bermanfaat masih sangatlah banyak, jika dibandingkan ilmu yang tidak bermanfaat, yang sepatutnya kita hindari. Ilmu yang bermanfaat misal ilmu pengobatan, ilmu gizi, ilmu manajemen keuangan, dan lainnya. Maka, marilah kita sibukkan diri untuk selalu menggali ilmu yang bermanfaat, khususnya ilmu agama/akhirat, sebab Allah membenci orang-orang yang sangat fasih dalam perkara dunia, namun mereka tidak tahu sama sekali tentang ilmu agama.
Allah Ta’ala berfirman,
يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الْآَخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ
Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia, sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai.” (QS. Ar-Ruum: 7)
Maksudnya, sebagian besar manusia tidaklah mempunyai ilmu kecuali ilmu tentang dunia, dan segala yang terkait dengannya. Mereka sangat pandai dengan hal tersebut, namun lalai dalam masalah-masalah agama mereka dan apa yang bisa memberikan manfaat bagi akhirat mereka.[2]
Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata,
وَاللهِ لَبَلَغَ مِنْ أَحَدِهِمْ بِدُنْيَاهُ أَنْ يُقَلِّبَ الدِّرْهَمَ عَلَى ظُفْرِهِ فَيُخْبِرُكَ بِوَزْنِهِ وَمَا يُحْسِنُ أَنْ يُصَلِّيَ
”Demi Allah, salah seorang dari mereka telah mencapai keilmuan yang tinggi dalam hal dunia, di mana ia mampu memberitahukan kepadamu mengenai berat sebuah dirham (uang perak) hanya dengan membalik uang tersebut pada ujung kukunya, sedangkan dirinya sendiri tidak becus dalam melaksanakan shalat.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 6: 84. Abu Ishaq Al-Huwaini menyatakan bahwa As-Suyuthi dalam Ad-Daar Al-Mantsur menisbatkan perkataan ini pada Ibnu Al-Mundzir dan Ibnu Abi Hatim)[2]

3.     Rutinitas yang benar
Aktivitas yang dilakukan pada momen dalam periode tertentu bisa kita sebut sebagai rutinitas. Contohnya adalah upload story Instagram, mandi, membaca, olahraga, hingga rutinitas memberikan nafkah kelak. Langsung pada poin-poin beberapa rutinitas yang patut kita rutinkan, seperti:
a.      Solat
Solat merupakan kewajiban dan mari kita sempurnakan solat kita, baik bacaan, gerakan, hingga persentase kusyu’. Jikalau solat kita baik, maka insyaallah ibadah yang selainnya juga akan baik dan lancar.
              Allah Ta’ala berfirman,
وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِينَ
“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’.” (QS. Al-Baqarah [2]: 45) [3]
Diriwayatkan dari Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan,
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا حَزَبَهُ أَمْرٌ، صَلَّى
“Dulu jika ada perkara yang menyusahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau mendirikan shalat.” (HR. Abu Dawud no. 1420, hadits hasan)[3]
b.     Berdoa
Usaha yang tiada henti, 24/7, dan bahkan hingga keringat darah, akan lebih melegakan dengan iringan doa. Dan jikalau telah berusaha maka hendaknya kita bertawakal, menyerahkan takdir kita dengan usaha seoptimal kita. Jika tidak menghasilkan seperti yang kita harapkan, paling tidak kita telah berusaha semampu kita dan sudah menempuh jalan usaha yang benar.
c.      Melakukan kebaikan kecil
Kebaikan itu tidak harus dalam bentuk materi, senyum dan memberikan wajah yang tidak masam merupakan contoh kebaikan kecil yang mudah. Kebaikan kecil itu jika hanya dipandang akan menguras daya hati dan harta materi, tentulah akan terasa berat, namun percayalah, bahwa kebaikan dengan keikhlasan, bisa memberikan nafas yang sejuk pada hati sampai jiwa yang paling dalam.
d.     Perawatan diri
Tidak salah jika diri sendiri ini diberikan perawatan, seperti cuci muka dengan sabun anti jerawat atau sabun pencerah, memangkas dan merapikan rambut, dan lain sebagainya. Tentulah selain membahagiakan diri sendiri, juga akan memberikan rasa percaya diri dan penampilan yang baik di publik. Sebelum alasan-alasan sebelumnya, perawatan diri sejatinya juga merawat kebersihan diri. Sebab, pada raga yang bersih, merupakan salah satu pengetuk jiwa dan pikiran yang bugar.
e.      Merencanakan target
Tanpa target tentu jalan-jalan kehidupan bagaikan menyelam hanyalah menenggelamkan diri, ataupun menghirup udara setelah menyelam hanyalah bagaikan menghirup asap batu bara. Tidak ada yang asik dan perjalanan terasa membosankan. Target yang jelas dan matang, baik itu jangka pendek atau jangka panjang, merupakan salah satu faktor pemompa denyut jiwa dalam setiap langkah kehidupan. Target yang menjadi tujuan, juga menjadi penentu arah keseharian kita. Bukankah tanpa target atau tujuan kecil pun, kita akan merasa malas dan cukup dengan rebahan di bawah pohon teras rumah sehari semalam? Lalu, bagaimana jika jiwa ini memiliki target yang besar, misalnya berhaji bersama keluarga sebelum hari tua. Maka, dengan izin Allah, jiwa dan raga akan selalu semangat dalam memenuhi dan menyusun apa saja yang diperlukan untuk mencapai target tersebut.
f.       Membaca
Mempelajari banyak hal dalam waktu yang singkat itu bisa dengan cara membaca, mendengar, atau melihat. Dan membaca merupakan salah satu karunia terbesar dalam kemampuan manusia. Membaca adalah ketika kita menangkap maksud orang lain, mungkin tanpa bertemu, atau berbeda ruang dan waktu. Mendalami ilmu tanpa resiko, itulah membaca.
Membaca sangatlah berbeda dengan mendengar atau melihat, kedua metode tersebut layaknya mempersempit fokus. Contohnya, ketika kita mendengar instruksi seorang koki, maka kita akan segera melakukan hal yang kita dengar dengan pemahaman kita. Sedangkan ketika kita melihat, maka contoh yang bisa saya berikan adalah seperti asisten junior yang selalu memperhatikan asisten seniornya, dia melakukan hal yang serupa. Berbeda jika kita membaca, kita seperti diberikan pilihan untuk mengadopsi atau menyerap apa yang kita baca, bahkan kita bisa membandingkan dan menolak apa yang kita baca.
Alangkah baiknya kita juga berhati-hati dalam memilih bacaan, mungkin bisa saja bacaan kita sangatlah asik dan memang populer, namun ternyata isi bacaan tersebut tidak baik untuk hati dan agama kita, maka baiknya kita tinggalkan bacaan semacam itu, misalnya adalah gosip dan isu-isu yang tidak jelas. Yang hanya akan menyibukkan diri kita akan kejelekan orang lain dan membuat gundah hati kita sendiri.
g.      Merenungkan diri
Mengapa merenung itu bisa mendapat cap buruk di masa sekarang ini? Sedangkan arti merenung hanyalah diam memikirkan sesuatu. Bukan berarti merenung selalu gelisah dan gundah, bukan? Merenungkan diri dalam versi saya adalah memikirkan aktivitas yang telah saya lakukan, apakah itu benar atau tidak, baik atau tidak, membangun diri saya atau tidak, menjadikan saya lebih mundur dari hari kemarin atau tidak, dan semisalnya. Merenungkin diri merupakan salah satu langkah untuk perbaikan diri, yang biasa kita sebut mencari-cari celah atau koreksi diri.

4.     Sikap yang baik
Manakala ahli pedang dan raja tak mampu menundukkan harimau dan para musuhnya, maka tunjuklah kebaikan dan kerendahan hati untuk berdamai dengan semesta. Bersikap baik, seperti memaafkan kesalahan, menerima nasihat, atau tidak membalas kejelekan dengan kejelekan yang sama atau yang lain. Langkah awal adalah dengan melapangkan hati diri sendiri, kendalikan emosi, dan tangguhkan diri untuk melebarkan hati. Berbuat baik kepada orang lain juga tidaklah untuk mengharapkan balasan, apapun itu, kecuali ridho dan pahala dari Allah (ikhlas). Karena, sebaik-baik balasan adalah balasan dari Allah. Dan bukankah banyak sekali, harapan begitu cepat sirna dan menjadi pemadam cahaya jiwa ketika disandarkan pada tempat yang salah?
Allah Ta’ala berfirman :
ٱدْفَعْ بِٱلَّتِى هِىَ أَحْسَنُ فَإِذَا ٱلَّذِى بَيْنَكَ وَبَيْنَهُۥ عَدَٰوَةٌ كَأَنَّهُۥ وَلِىٌّ حَمِيمٌ
Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia” (QS. Fushilat : 34). [4]

5.     Hati yang sehat
Hati yang sehat akan membuat jiwa dan pikiran menjadi jernih untuk berpikir dan sigap untuk melakukan kebenaran. Hati yang sehat akan mudah menerima nasihat dan bersabar ketika ujian tiba. Hati yang sehat akan selalu berprasangka baik atas takdir baik ataupun takdir buruk. Hati yang sehat bukanlah hati yang memancarkan jiwa dan raga yang tampak bugar, namun lebih sejatinya, bahwa hati yang sehat itu memberikan ketenangan jiwa ketika raga tidak begitu sehat, dan memberikan raga kekuatan ketika raga itu lemah. Hati yang sehat adalah salah satu jalan menuju keringanan dalam segala urusan.

Daftar Pustaka:

Dan saya cantumkan beberapa link website berisi artikel yang semoga bisa menjadikan pendukung dari artikel saya dan menambah inspirasi perjalanan di Calsium Ark ini:
1.     Bagaimana Meraih Ilmu yang Bermanfaat?
2.     Tanda-tanda Ilmu yang Bermanfaat
3.     Keutamaan Ilmu yang Bermanfaat
4.     Introspeksi Diri, Akhlak yang Terlupa
5.     Tanda-tanda Hati yang Sehat dan Hati yang Sakit

Komentar